Senin, 02 November 2009

B U K U I S L A M

Penulis : Syaikh M.Abdul Athi Buhairi.
Judul Asli : La Tahzan
Edisi Indonesia : Jangan Bersedih Sesudah Kesulitan Ada Kemudahan
Penerjemah : Imam Sulaiman, Lc.
Penyunting : H. M. A. Noor Ridho, Lc.
Penata Letak : Taufik Sholehudin
Pewajah Sampul : DEA Grafis
Cetakan : Pertama, Oktober 2004
Ketiga, Februari 2006 (Edisi Revisi)
Penerbit : PUSTAKA AL-KAUTSAR
Jl. Cipinang Muara Raya 63 Jakarta Timur 13420
Telp. 021-8507590 Fax. 021-85912403
Email : redaksi@kautsar.co.id
http : //www.kautsar.co.id


Pengantar
Alhamdulillah, berkat karunia dan kasih saying-Nya, kami dapat menghadirkan buku Jangan Bersedih di hadapan pembaca budiman.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang telah membawa pelita yang menyinari akal dan hati, mencerahkan pemikiran dan peradaban, serta melapangkan kehidupan duniawi menuju kebahagiaan ukhrawi.
Amma ba’du;
Buku ini mengidentifikasi penyakit hati, mendiagnosa, memberi resep pengobatan, sekaligus menyajikan bermacam-macam ramuan dan obat penawaranya. Dengan sahaja buku ini tidak hanya menawarkan tindakan kuratif an sich terhadap penyakit itu. Melalui berbagai ilustrasi kehidupan, ia pun memberikan imunisasi dan sugesti.

ISI BUKU
Buku ini terdiri dari 256 halaman, dan salah satu judul yang kami kutip adalah “ Nilai Kebahagiaan di Dunia”.
Nilai Kebahagiaan di Dunia
Barang siapa yang melirik kondisi dunia, maka dia akan mengetahui bahwa tujuan yang benar dari Allah Ta’ala adalah berzuhud terhadapnya. Barang siapa yang cendrung membolehkan untuk menikmatinya, maka dia akan mendapatkan dalam setiap kebahagiaannya terdapat kesedihan, dalam setiap kelapangan ada keletihan, dalam setiap akhir kenikmatan ada kesusahan yang terus bertambah, dan tidaklah sesuatu meninggi dari dunia kecuali akan direndahkan.
Istri yang paling dicintai Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Aisyah Radhiyallahu Anhu. Maka, ketika datang berita dusta yang menimpanya, cinta beliau berpaling kepada Zainab, lalu turunlah ayat, “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istinya (menceraikannya)… (Al-Ahzab: 37)
Kemudian cukuplah, jika dia mendapatkan yang dicintainya, maka akal sehat pun melihat perceraiannya; sehingga menjadi susah ketika adanya perceraian tersebut,sebagaimana yang dikatakan seorang penyair,
“Kesedihan yang paling mendalam bagiku adalah
Kebahagiaan dimana seorang yang merasakannya
Telah menyakiti kepastian berpisah dengannya.”
Orang yang berakal adalah orang yang mengetahui bahwa tujuan Allah Ta’ala adalah mengingatkannya bahwa dunia itu rendah, hina, tidak berharga, dan fana. Oleh karena itu, berpalinglah darinya dan hendaklah mengambil hal-hal penting yang dapat menggantikannya kepada akhirat dan meninggalkan perkara-perkara yang menyibukan dari negeri abadi. Barangsiapa menyimpang dari dari kebenaran, dia akan menyesal.
(Sumber: La Tahzan, Hal. 379-380).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar